Menurut penelitian, terdapat
beberapa golongan yang biasa dipergunakan membuat kemasan produk plastik.
Penggolongan ini bertujuan agar pelaku usaha (produsen) bisa lebih berhati-hati
dan selektif dalam proses produk plastik karena tidak semuanya dapat digunakan.
Golongan plastik yang biasa digunakan dalam produk plastik ini adalah:
Golongan plastik 1, biasanya
digunakan untuk mengemas produk air mineral dan jenis minuman lain. Terhadap
golongan 1 ini berlaku ketentuan penggunaan agar tidak melakukan pengisian
ulang. Hal ini di sebabkan golongan plastik 1 ini sangat rentan terhadap
kontaminasi bahan di luar.
Golongan plastik 2, memiliki
karakteristik yang tidak jauh beda dengan golongan plastik 1, sangat rentan
terkonaminasi dan hanya boleh digunakan satu kali saja.
Golongan plastik 3, biasanya
digunakan untuk pembungkus makanan dan dapat di temui dengan mudah pada
pembungkus makanan siap saji. Golongan plastik ini sama sekali tidak boleh terkena
kontak dengan panas ataupun inyak karena apabila terkena kemasan plastik
tersebut akan mudah meleleh dan rusak. Itu berarti makanan akan mudah
terkontaminasi dan tidak dalam keadaan layak konsumsi.
Golongan plastik 4 dan 5,
merupakan jenis plastik yang sangat aman untuk di gunakan bagi produk pangan.
Bahan jenis plastik ini sangat aman di karenakan tidak mudah mengalami
penguraian dengan makanan yang di kemasnya. Penggunaan Golongan plastik ini
sangat di anjurkan bagi produk pangan.
Golongan 6 yang disebut
Stereoform sangat dilarang untuk terkontaminasi panas.
Golongan plastik 7, Poly
carbonat yang sering digunakan sebagai bahan Galon Air masih belum di pasikan
dalam kondisi aman untuk di gunakan terkait adanya zat dispenol A yang bisa
merusak kesehatan.
Maka sebaiknya konsumen
berhati-hati bila harus mengkonsumsi produk yang dikemas dalam plastik.
Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM RI) telah mengeluarkan peringatan mengenai pembungkus makanan
dari plastik kresek daur ulang. Sering kita jumpai kresek dipakai untuk
membungkus makanan seperti gorengan yang di pinggir jalan atau untuk mengemas
makanan lainnya yang langsung bersentuhan dengan makanan (food contact)
Beberapa pertimbangan
dikeluarkannya peringatan dari BPOM ini antara lain adalah karena dalam proses
daur ulang tersebut riwayat penggunaan sebelumnya tidak diketahui. Apakah bekas
wadah pestisida, limbah rumah sakit, limbah logam berat, atau bahan kimia
berbahaya lainnya. Dalam proses daur ulang juga ditambahkan bahan kimia yang
berbahaya bagi kesehatan manusia
Keseriusan pemerintah untuk merealisasikan peringatan bagi masyarakat ini
diwujudkan dengan keputusan BPOM untuk membuka akses bagi masyarakat yang ingin
mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai dampak dari penggunaan plastik daur
ulang ini. BPOM telah membentuk Unit Layanan Pengaduan Konsumen Badan POM RI
yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat dengan nomor telepon
021-4263333 dan 021-32199000 atau e-mail ulpk@pom.go.id dan
ulpkbadanpom@yahoo.com atau melihat di website Badan POM, www.pom.go.id.
Tulisan ini merujuk pada
surat yang dikeluarkan oleh BPOM mengenai PERINGATAN PUBLIK / PUBLIC WARNING
TENTANG KANTONG PLASTIK “KRESEK” Nomor: KH.00.02.1.55.2890 Tanggal : 14 Juli
2000
Flexible packaging diartikan
sebagai kemasan yang bersifat lentur atau disebut dengan istilah Plastik.
Plastik itu sendiri berasal dari bahasa latin yaitu plasticus yang
berarti mudah dibentuk.Plastik termasuk bagian polimer termoplastik yang akan
melunak apabila dipanaskan dan dapat dibentuk sesuai dengan yang kita inginkan,
dan setelah dingin dia akan mempertahankan bentuknya yang baru.
Asal-usul plastik diawali
pada tahun 1862 yang ditemukan oleh Alexander Parkes di Inggris melalui
percobaan yang menggunakan bahan organic dari selulosa.
Kemudian hasil temuannya diberi nama dengan parkesine.Pada tahun 1920 seorang
ahli kimia yang bernama Wallace Hume Carothers membuat riset di laboratorium
dan berhasil menemukan nylon. Seiring waktu berjalan hasil penemuan ini
menjadikan nylon, acrylic, polimer sebagai bahan-bahan yang digunakan sebagai
substitusi bahan-bahan yang biasa digunakan.
Penemuan lainnya terjadi
pada tahun 1933 oleh Ralph Wiley yang menemukan Polyviny Chloride (PVC) yang
dapat digunakan sebagai kemasan makanan. Pada tahun yang sama pula pakar kimia
organik yang bernama RO Gibson dan EW Fawcett menemukan polyethylene yang
bersifat ringan dan tipis yang pada perang dunia kedua digunakan untuk melapisi
kabel bawah air dan isolasi radar. Dimana penggunaan polyethylene ini dapat
mengurangi berat radar sebanyak 270 kg. Sampai saat ini polyethylene banyak
digunakan sebagai bahan untuk membuat botol minuman, tas belanja (shopping bag)
dan container untuk menyimpan makanan.
Berbagai produk yang terbuat
dari plastik banyak sekali digunakan untuk kemasan dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut ini jenis-jenis plastik dengan kodenya :
PETE atau PET (polyethylene
terephthalate)
Kode : 1 PETE atau PET
(Polyethylene Terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik seperti botol
air mineral, botol minuman, botol jus, botol minyak goreng, botol kecap, botol
sambal, botol obat, dan botol kosmetik. PETE/PET direkomendasikan hanya untuk
sekali pakai. Karena penggunaan yang berulang-ulang terutama pada kondisi panas
akan menyebabkan melelehnya lapisan polimer dan keluarnya zat karsinogenik SbO3
(Antimon Trioksida) dari bahan plastik tersebut, sehingga dapat menyebabkan
kanker untuk penggunaan jangka panjang.
HDPE (high density
polyethylene)
Kode 2 : HDPE (High Density
Polyethylene) memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih
tahan terhadap suhu tinggi. HDPE biasa dipakai untuk botol kosmestik, botol
obat, botol minuman, botol susu yang berwarna putih susu, galon air minum,
kursi lipat, dan jerigen, pelumas, dan lain-lain. Sama halnya sepert PET, HDPE
hanya direkomendasikan untuk satu kali pakai, karena pelepasan senyawa
SbO3(Antimon Trioksida) terus meningkat seiring waktu. Sifat dari bahan HDPE
ini apabila ditekan tidak kembali ke bentuk semula.
3.PVC (Polyvinyl Chloride)
Kode 3 : PVC (Polyvinyl
Chloride)adalah jenis plastik yang sulit untuk didaur ulang. Jenis plastik PVC
ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus, untuk mainan anak-anak, selang,
pipa bangunan, taplak meja plastik. PVC mengandung DEHA yang berbahaya bagi
kesehatan. DEHA juga mudah melebur jika terdapat kontak antara permukaan
plastik dengan minyak
.
4.LDPE (Low Density
Polyethylene)
Kode 4 : LDPE (Low Density
Polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan
botol-botol yang lembek. LDPE dipakai untuk tutup plastik, kantong / tas kresek
dan plastik tipis lainnya. Walaupun baik untuk tempat makanan, barang berbahan
LDPE ini sulit dihancurkan.
PP (polypropylene)
Plastik jenis PP
(polypropylene) ini adalah pilihan bahan plastik terbaik, terutama untuk tempat
makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, tutup botol, cup plastik,
mainan anak, botol minum dan yang terpenting, pembuatan botol minum untuk bayi.
Bahan yang terbuat dari PP memiliki sifat yang elastis, yaitu apabila ditekan
akan kembali ke bentuksemula.
Karakteristik plastik jenis ini transparan dan cenderung berawan (keruh).
Nah pada produk medela terdapat logo ini.
Karakteristik plastik jenis ini transparan dan cenderung berawan (keruh).
Nah pada produk medela terdapat logo ini.
PS (Polystyrene)
Kode 6 : PS (Polystyrene)
biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai
seperti sendok, garpu gelas, dan lainlain. Polystyrene dapat mengeluarkan bahan
Styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan ini harus dihindari,
karena berbahaya untuk kesehatan, selain itu bahan ini sulit didaur ulang.
Other
Kode 7 : Yang termasuk jenis
plastik ini ada 4 yaitu : SAN (styrene acrylonitrile), ABS (acrylonitrile
butadiene styrene), PC (polycarbonate), dan Nylon. SAN dan ABS memiliki
resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu, kekuatan, kekakuan, dan
tingkat kekerasan yang telah ditingkatkan sehingga merupakan salah satu bahan
plastik yang sangat baik untuk digunakan dalam kemasan makanan ataupun minuman.
Biasanya terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan,
penyaring kopi, dan sikat gigi, sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai bahan
mainan lego dan pipa.
PC atau Polycarbonate dapat ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula.
PC atau Polycarbonate dapat ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan makanan dan minuman, termasuk kaleng susu formula.
Dalam suhu panas PC dapat
melepaskan bahan utamanya yaitu Bisphenol-Ake dalam makanan dan minuman yang
berbahaya bagi kesehatan sehingga dianjurkan untuk tidak digunakan sebagai
tempat makanan ataupun minuman. Ironisnya banyak botol susu yang terbuat dari
PC dan sangat mungkin mengalami proses pemanasan untuk tujuan sterilisasi
dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih
atau air panas.
Bahan Yang Aman Untuk Kemasan
1. Untuk wadah utama (pengemas yang berhubungan langsung dengan bahan pangan) :
7.Karton
Karton sebenarnya merupakan
bagian dari kertas namun lebih sering berfungsi sebagai wadah luar atau sebagai
penyokong wadah utama dalam pengemasan bahan pangan agar lebih kuat, dan rigid.
arton memiliki kelebihan antara lain elastisitas lebih baik dibanding kayu,
dapat dicetak pada permukaannya, dapat dikerjakan secara masinal, pemakaiannya
mudah, dan dapat dilipat sehingga tidak memerlukan ruang luas
Pun dalam penyimpanannya,
seringkali terjadi reaksi biokimia yang dapat menghasilkan Senyawa dalam bentuk
Gas yang keluar dari bahan-bahan tertentu.Kerusakan yang terjadi selama
Pengangkutan dan Distribusi terutama disebabkan oleh adanya GETARAN, KEJUTAN,
KOMPRESI dan KONTAK DENGAN UDARA LANGSUNG, sehingga dapat menyebabkan Reaksi
Kimia yang dapat merubah Warna dan Rasa menjadi lebih baik atau bahkan bisa
sebaliknya.
Bahan makanan yang sudah diolah
baik yang setengah jadi maupun yang sudah jadi dapat dengan mudah tercemar baik
oleh Mikroba maupun bahan kimia yang dapat menyebabkan hal-hal yang tidak
diinginkan.
Perlu juga diingat bahwa
bahan makanan olahan yang dibutuhkan manusia tidak selalu dapat tersedia atau
dihasilkan sendiri, bahkan seringkali didatangkan dari tempat lain yang
jaraknya sangat jauh. Sudah pasti selama perjalanan dari Produsen sampai ke
tempat Konsumen langsung maupun ke Distributor memerlukan penyimpanan untuk
produk tersebut dijual saat itu juga atau pada waktu berikutnya bisa saja
terjadi reaksi kimia atau pencemaran apabila tidak ditangani dengan baik dan
secara professional.
Salah satu cara untuk
mengurangi atau mencegah kerusakan yang disebabkan oleh reaksi Biologis, Kimia
dan Mekanis tersebut adalah dengan pemilihan Desain dan pemilihan Bahan
Pengemas yang baik, aman, bagus dan sesuai dengan peruntukannya
Persyaratan Bahan
Pengemas :
Memiliki permeabilitas
(kemampuan melewatkan) udara yang sesuai dengan jenis bahan pangan yang akan
dikemas.Harus bersifat tidak beracun dan inert (tidak bereaksi dengan bahan
pangan).
Harus kedap air.
Tahan panas.
Mudah dikerjakan secara
masinal dan harganya relatif murah.
Jenis-jenis Bahan Pengemas
1. Untuk wadah utama (pengemas yang berhubungan langsung dengan bahan pangan) :
Kaleng/logam
Botol/gelas
Plastik
Kertas
Kain
Kulit, daun, gerabah, bambu,
dll
2. Untuk wadah luar
(pelindung wadah utama selama distribusi, penjualan, atau penyimpanan) :
Kayu
Karton
1. Gelas
Sebagai bahan kemas gelas mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan seperti inert
(tidak bereaksi) kuat, tahan terhadap kerusakan,sangat baik sebagai barier
terhadap benda padat,cair dan gas. Sifat gelas yang transparan menguntungkan
dari segi promosi disamping itu beberapajenis gelas seperti pyrex tahan
terhadap suhu yang tinggi. Kelemahan kemasan gelas yaitu mudah pecah dankurang
baik bagi produk-produk yang peka terhadap penyinaran (ultra violet).
Terbuat dari campuran pasir
C2O, soda abu, dan alumina.
Bersifat inert (tidak
bereaksi dengan bahan pangan)
Kuat (tahan terhadap
kerusakan akibat pengaruh waktu)
Transparan (bentuk dan warna
bahan pangan dapat dilihat).
Kelemahannya adalah mudah
pecah, tidak dapat digunakan untuk bahan pangan yang peka terhadap sinar.
Agar tidak mudah pecah
sebaiknya bagian permukaan gelas dilapisi dengan lilin (wax) dan silika yang
halus.
Kemasan gelas berkembang terus, mulai dari bejana sederhana hingga berbagai
bentuk kemasan yang sangat menarik walaupun kemasan gelas terus bersaing dengan
bahan kemasan lainnya (Osborne,1980).
Menurut Hanlon (1971),gelas bukan merupakan bahan kristal,sehingga lebih tepat
disebut cairan beku. Dalam proses pembuatannya bahan gelas mengalami proses
annelling pada suhu 540 - 570° C. Penggunaan bahan gelas untuk bahan pangan
yang memerlukan pasteurisasi dan sterilisasi sangat tepat.
Dalam proses pengemasan dengan menggunakan kemasan gelas dalam bentuk botol,
kegiatan menutup atau menyumbat botol merupakan satu bagian yang penting dan
perlu mendapat perhatian. Bagian penutup atau tutup botol merupakan bagian yang
terlemah dari sistem perlindungan terhadap gangguan atau pencemaran dari
luar,karena cara penutupan dan jenis/bahan penutup yang kurang tepat dapat
menyebabkan pencemaran dan kerusakan bahan yang dikemas. Bahan – bahan yang
umum digunakan untuk menutup adalah logam (kaleng ), aluminium, gabus dan
berbagai jenis plastik (Syarief,1989)
2.Kertas
Selain untuk media komunikasi atau media cetak, kertas digunakan menjadi bahan
pengemas.Pada abad ke 19 kertas menggantikan peranan kemasan dari tanah liat,
gelas dan kaleng. Pada abad ke 19 itu pula karton mulai berkembang dalam bentuk
kantong kertas dan kardus.Kotak kertas yang dibuat pada sekitar tahun 1840
membutuhkan banyak lem karena banyak potongan yang perlu direkat. Penggunaannya
terbatas untuk barang-barang mewah (Syarief,1989)
Jenis-jenis kertas kemudian lebih beragam mulai dari kertas karton, kertas
tulis, kraft,kertas label,kertas tahan minyak (lemak),hingga berbagai jenis
karton. Secara berangsur-angsur sebagai bahan kemas, kemasan kertas mendapat
saingan dari bahan kemas lain terutama plastik.Kertas dan karton dapat dibuat
lembaran – lembaran dan gulungan, karena itu memungkinkan untuk dilakukan
proses laminasi sehingga kertas banyak dikombinasikan dengan bahan lain yang
kedap udara dan tahan air.
Kertas “greaseproof” : dapat
digunakan sebagai pengemas utama mentega, margarin, daging, kopi, dan gula-gula.
Mirip kertas karton namun memiliki kekedapan terhadap perembesan lemak.
Kertas “glassine” : dibuat
80% dari kertas greaseproof namun memiliki ketahanan terhadap udara dan lemak
yang kuat, permukaanya halus, serta mengkilat. Sering digunakan untuk mengemas
roti yang berkadar lemak tinggi.
Kertas “kraft” : kertas yang
dibuat dari bubur sulfat dan kayu kraft (yang berasal dari Swedia dan Jerman).
Memiliki sifat yang lebih kuat dari kertas Glassine, sehingga bahan pangan yang
dibungkus dengan kertas ini akan tetap kering lebih-lebih bila permukaannya
dilem dengan resin. Kertas ini biasanya digunakan untuk mengemas keju di
Negara-negara eropah.
Kantung kertas merupakan salah satu kemasan tertua yang masih tetap
popular.Sedangkan amplop adalah kantung kertas yang mempunyai bentuk
khusus,sangat umum digunakan untuk pembungkus surat. Kedua jenis pembungkus ini
dinilai cukup murah, baik harganya maupun ongkos untuk pengangkutannya.
Mempunyai rasio bobot (perbandingan antara berat kemasan dengan berat produk
yang dikemas) yang rendah. Seperti juga amplop, kantung kertas dapat dibedakan
atas beberapa jenis rempah dan berbagai jenis tepung (Syarief,1989).
Karton lipat merupakan jenis pengemas yang popular karena mempunyai sifat
praktis, murah dan mudah dilipat sehingga hanya memerlukan sedikit ruang dalam
pengangkutan dan penyimpanan. Demikian pula dalam pencetakan dan penggrafiran
dapat dilakukan untuk meningkatkan penampilan produk.Pemakaian yang luas dari
jenis kemasan ini disebabkan oleh banyaknya variasi dalam hal model, bentuk dan
ukuran dengan karakteristik yang khusus. Dalam perdagangan karton lipat dikenal
dengan nama FC (Folding Carton)
3. Logam
Beberapa keuntungan dari kemasan logam (kaleng) untuk makanan dan minuman yaitu
mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi,mempunyai sifat sebagai barrier yang
baik khususnya terhadap gas,uap air,jasad renik,debu dan kotoran sehingga cocok
untuk kemasan hermitis. Disamping itu walaupun mempunyai resiko adanya
pengikisan atau migrasi unsur-unsur logam,akan tetapi tosisitasnya relatif
rendah,tahan terhadap perubahan atau keadaan suhu yang ekstrim dam mempunyai
permukaan yang ideal untuk pemberian dekorasi dalam labeling.
Bahan yang sering dipakai :
Kaleng (tin plate) dan almunium.
Tin plate adalah wadah yang
terbuat dari baja yang dilapisi timah putih yang tipis, bagian dalamnya juga
dilapisi dengan lapisan email.
Lapisan email tersusun atas
senyawa oleoresin, fenolik, vinil, dan lilin. Fungsi email adalah untuk
mencegah korosi dan mencegah kontak antara metal dengan bahan pangan. Misal
email fenolik digunakan untuk melapisi kaleng pengemas bahan ikan dan daging.
Kemasan kaleng,umumnya digunakan untuk berbagai produk yang mengalami proses
sterilisasi termal. Pada mulanya kemasan kaleng dibuat dari plat timah (tin
plate) yang terdiri dari lembaran dasar baja dilapisi timah putih dengan cara
encelupan dalam timah cair panas (hot dipping) atau dengan proses elektrolisa
yaitu menggunakan listrik galvanis sehingga menghasilkan lapisan timah yang
lebih tipis standar,seperti misalnya kaleng baja bebas timah (tin free
steel),kaleng tiga lapis (three piece cans), dan kaleng lapis ganda (two piece
cans) (Syarief,1989).
Aluminium adalah logam yang lebih ringan dari baja, mempunyai daya korosif oleh
atmosfir yang rendah,mudah dilekuk-lekukkan sehingga lebihmudah berubah
bentuknya,tidak berbau,tidak berasa,tidak beracun dan dapat menahan masuknya
gas. Aluminium lebih sukar disolder sehingga sambungan-sambungannya tidak dapat
rapat. Kemasan yang dibuat dari alumiun dapat menyebabkan patahan – patahan
jika terlipat,sehingga dapat menimbulkan lubang-lubang.
Aluminium memiliki
keuntungan sebagai bahan pengemas, yaitu memiliki berat yang lebih ringan
dibanding baja.
Aluminium juga mudah
dibentuk sesuai keinginan.
Aluminium lebih tahan korosi
karena bisa membentuk aluminium oksida.
Kelemahan aluminium adalah
mudah berlubang dibanding baja dan lebih sukar disolder sehingga sambungan
kemasan tidak benar-benar rapat.
Pada umumnya penggunaan alumium secara komersial memerlukan sifat-sifat khusus
yang mungkin tidak menguntungkan bila digunakan aluminium yang murni.Penambahan
komponen campuran dapat memperbaiki sifat-sifatnya dan daya tahan korosi. Bahan
–bahan yang umum digunakan sebagai campuran diantaranya adalah
tembaga,magnesium,mangan khronium,seng,besi dan titanium. Sifat-sifat yang
spesifik dari aluminium memungkinkan penmggunaan logam terbebut sebagai tutup
kaleng kemasan berbagai jenis makanan dan minuman atau untuk tube logam lunak /
collapsible tube ( Iskandar ,1987).
Foil adalah bahan kemasan dari logam , berupa lembaran aluminium ayng padat dan
tipis dengan ketebalan kurang dari 0,15 mm. Mempunyai kekerasan yang
berbeda-beda,yaitu dari mulai yang sangat lunak sampai yang keras. Foil
mempunyai sifat yang hermetis,fleksibel,tidak tembus cahaya (cocok untuk
kemasan margarin dan yoghurt).Pada umumnya digunakan sebagai bahan pelapis (laminan)
yang dapat ditepatkan pada bagian dalam (lapisan dalam) atau lapisan tengah
sebagai penguat yang dapat melindungi kemasan (Syarief,1989)
4.Plastik
Penggunaan plastik dalam pengemasan sebenarnya sangat terbatas tergantung dari
jenis makanannya. elemahan plastik adalah tidak tahan panas, tidak hermetis
(plastik masih bisa ditembus udara melalui pori-pori plastik), dan mudah
terjadi pengembunan uap air didalam kemasan ketika suhu turun. Penggunaan
plastik sebagai kemasan dapat berupa kemas bentuk (flexible) atau sebagai kemas
kaku. Makanan padat yang umumnya memiliki umur simpan pendek atau makanan yang
tidak memerlukan perlindungan yang hebat dikemas dengan kemasan bentuk. Akan
tetapi makan cair dan maka padat yang memerlukan perlindungan yang kuat perlu
dikemas dengan kemasan kaku dalam bentuk botol,jerigen,kotak atau bentuk
lainnya (Suryati dan Setiawan ,1987)
Berbagai jenis kemasan bentuk muncul dengan pesat seperti
polietilen,polipropilen,polyester nilon dan film vinil. Sebagai bahan pengemas
,plastik dapat digunakan dalam bentuk tunggal,komposit atau berupa lapisan –
lapisan (multi lapis)dengan bahan lain (kertas,aluminium foil ). Kombinasi
tersebut dinamakan laminasi yang diproses baik dengan cara laminasi akstrusi
maupun laminasi adhesif. Dengan demikian kombinasi dari berbagai ragam plastik
dapat menghasilkan ratusan jenis kemasan.
Berdasarkan sifat-sifatnya terhadap perubahan suhu maka plastik dapat dibagi
dua,yaitu :
1.
Termoplastik: meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu,dan
mempunyai sifat dapat balik (reversible) kepada sifat aslinya,yaitu kembali
mengeras bila didinginkan.
2.
Termoset atau Termodursinable : tidak dapat mengikuti perubahan suhu, bila
sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali (non
reversible).Pemanasan yang tinggi tidak akan melunakkan termoset melainkan akan
membentuk arang dan terurai,karena sifatnya yang demikian sering digunakan
sebagai tutup ketel,eperti jenis-jenis melamin.
Penggunaan plastik untuk
kemasan makanan cukup menarik karena sifat-sifatnya yang menguntungkan,seperti
luwes (mudah dibentuk),mempunyai adaptasi yang tinggi terhadap produk,tidak
korosif seperti kemasan logam , serta mudah dalam penanganannya. Di dalam perdagangan
dikenal plastik untuk kemasan pangan (food grade) dankemasan untuk bukan pangan
(non food grade).
Kemasan kaku yang terbuat
dari plastik paling banyak digunakan untuk mengemas produk susu. Dua jenis
bahan dari plastik yang terbaik yaitu LDPE (Low Density Polyethylene ) dan HDPE
(High Density Polyethylene). Bentuk-bentuk kemasan plastik kaku dapat dijumpai
dengan mudah di pasaran dalam bentuk yang siap pakai seperti botol.jerigen,drum
,gelas ,mangkuk, ember, dan lain-lain (Syarief,1989)
Penggunaan plastik dalam
pengemasan sebenarnya sangat terbatas tergantung dari jenis makanannya.
elemahan plastik adalah tidak tahan panas, tidak hermetis (plastik masih bisa
ditembus udara melalui pori-pori plastik), dan mudah terjadi pengembunan uap
air didalam kemasan ketika suhu turun.
Jenis plastik yang digunakan
dalam pengemasan antara lain : polietilen, cellophan, polivinilklorida (PVC),
polivinil dienaklorida (PVDC), polipropilen, poliester, poliamida, dan
polietilentereptalat (PET).
Polietilen : adalah jenis
plastik yang harganya paling murah dan memiliki beberapa varian antara lain :
Low Density Polyetilene (LDPE), High Density Polyetilene (HDPE), dan
Polietelentereptalat (PET). Polietilen memiliki sifat kuat bergantung
variannya, transparan, dan dapat direkatkan dengan panas sehingga mudah dibuat
kantong plastik.
Cellophan : sebenarnya
terbuat dari serat selulosa yang disulfatasi. Cellophan dapat dipergunakan
untuk membungkus sayuran, daging, dan beberapa jenis roti. Cellophan yang dilapisi
nitroselulosa mempunyai sifat yang tahan terhadap uap air, fleksibel, dan mudah
direkatkan dengan pemanasan. Cellophan yang dilapisi PVDC tahan terhadap uap
air dan kedap oksigen sehingga baik untuk mengemas makanan yang mengandung
minyak atau lemak.
Polivinilklorida (PVC) :
jenis plastik yang kuat, namun memiliki kelemahan yaitu dapat berkerut
(Shrinkable) dan sering digunakan untuk mengemas daging atau keju.
Polivinildienaklorida (PVDC)
: jenis plastik yang kuat, tahan terhadap uap air dan transmisi udara. Sering
dugunakan dalam pengemasan keju dan buah-buahan yang dikeringkan.
5.Kain Blacu
Digunakan untuk mengemas
bahan pangan tepung, seperti tepung terigu atau tepung tapioka. Dibuat dalam
bentuk kantung-kantung yang berkapasitas 10 – 50 kg.
Kelebihannya adalah tidak
mudah sobek/ kuat kainnya, flesibel, mudah dicetak dan murah harganya.
Kelemahannya : memiliki
permiabilitas udara yang jelek dan tidak kedap air.
6.Edible film
Edible film adalah bahan
pengemas organik yang dapat dimakan sekaligus dengan bahan pangan yang
dikemasnya, biasa terbuat dari senyawa polisakarida dan turunan lemak. akan
yang digunakan antara lain polisakarida yang berasal dari rumput laut (agarose,
karaginan, dan alginat), polisakarida pati, amilosa film, gelatin, gum arabik,
dan turunan monogliserida. Contoh pengemasan edible film adalah pada sosis,
permen, kapsul minyak ikan, sari buah dan lain-lain.
7.Karton
Pun dalam penyimpanannya,
seringkali terjadi reaksi biokimia yang dapat menghasilkan Senyawa dalam bentuk
Gas yang keluar dari bahan-bahan tertentu.Kerusakan yang terjadi selama
Pengangkutan dan Distribusi terutama disebabkan oleh adanya GETARAN, KEJUTAN,
KOMPRESI dan KONTAK DENGAN UDARA LANGSUNG, sehingga dapat menyebabkan Reaksi
Kimia yang dapat merubah Warna dan Rasa menjadi lebih baik atau bahkan bisa
sebaliknya.
Bahan makanan yang sudah diolah baik yang
setengah jadi maupun yang sudah jadi dapat dengan mudah tercemar baik oleh
Mikroba maupun bahan kimia yang dapat menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Perlu juga diingat bahwa bahan makanan olahan
yang dibutuhkan manusia tidak selalu dapat tersedia atau dihasilkan sendiri,
bahkan seringkali didatangkan dari tempat lain yang jaraknya sangat jauh. Sudah
pasti selama perjalanan dari Produsen sampai ke tempat Konsumen langsung maupun
ke Distributor memerlukan penyimpanan untuk produk tersebut dijual saat itu
juga atau pada waktu berikutnya bisa saja terjadi reaksi kimia atau pencemaran
apabila tidak ditangani dengan baik dan secara professional.
Salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah
kerusakan yang disebabkan oleh reaksi Biologis, Kimia dan Mekanis tersebut
adalah dengan pemilihan Desain dan pemilihan Bahan Pengemas yang baik, aman,
bagus dan sesuai dengan peruntukannya.
Persyaratan Bahan Pengemas :
- Memiliki permeabilitas (kemampuan melewatkan) udara yang sesuai dengan jenis bahan pangan yang akan dikemas.
- Harus bersifat tidak beracun dan inert (tidak bereaksi dengan bahan pangan).
- Harus kedap air.
- Tahan panas.
- Mudah dikerjakan secara masinal dan harganya relatif murah.
Jenis-jenis Bahan Pengemas
1. Untuk wadah utama (pengemas yang berhubungan langsung dengan bahan pangan) :
- Kaleng/logam
- Botol/gelas
- Plastik
- Kertas
- Kain
- Kulit, daun, gerabah, bambu, dll
2. Untuk wadah luar (pelindung wadah utama selama distribusi, penjualan,
atau penyimpanan) :
- Kayu
- Karton
1. Gelas
Sebagai bahan kemas gelas
mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan seperti inert (tidak bereaksi)
kuat, tahan terhadap kerusakan,sangat baik sebagai barier terhadap benda
padat,cair dan gas. Sifat gelas yang transparan menguntungkan dari segi promosi
disamping itu beberapajenis gelas seperti pyrex tahan terhadap suhu yang
tinggi. Kelemahan kemasan gelas yaitu mudah pecah dankurang baik bagi
produk-produk yang peka terhadap penyinaran (ultra violet).
Terbuat dari campuran pasir C2O, soda abu, dan alumina.
Bersifat inert (tidak bereaksi dengan bahan pangan)
Kuat (tahan terhadap kerusakan akibat pengaruh waktu)
Transparan (bentuk dan warna bahan pangan dapat dilihat).
Kelemahannya adalah mudah pecah, tidak dapat digunakan untuk bahan pangan
yang peka terhadap sinar.
Agar tidak mudah pecah sebaiknya bagian permukaan gelas dilapisi dengan
lilin (wax) dan silika yang halus.
Kemasan gelas berkembang
terus, mulai dari bejana sederhana hingga berbagai bentuk kemasan yang sangat
menarik walaupun kemasan gelas terus bersaing dengan bahan kemasan lainnya
(Osborne,1980).
Menurut Hanlon
(1971),gelas bukan merupakan bahan kristal,sehingga lebih tepat disebut cairan
beku. Dalam proses pembuatannya bahan gelas mengalami proses annelling pada
suhu 540 - 570° C. Penggunaan bahan gelas
untuk bahan pangan yang memerlukan pasteurisasi dan sterilisasi sangat tepat.
Dalam proses pengemasan
dengan menggunakan kemasan gelas dalam bentuk botol, kegiatan menutup atau
menyumbat botol merupakan satu bagian yang penting dan perlu mendapat
perhatian. Bagian penutup atau tutup botol merupakan bagian yang terlemah dari
sistem perlindungan terhadap gangguan atau pencemaran dari luar,karena cara
penutupan dan jenis/bahan penutup yang kurang tepat dapat menyebabkan
pencemaran dan kerusakan bahan yang dikemas. Bahan – bahan yang umum digunakan
untuk menutup adalah logam (kaleng ), aluminium, gabus dan berbagai jenis
plastik (Syarief,1989)
2.Kertas
Selain untuk media
komunikasi atau media cetak, kertas digunakan menjadi bahan pengemas.Pada abad
ke 19 kertas menggantikan peranan kemasan dari tanah liat, gelas dan kaleng.
Pada abad ke 19 itu pula karton mulai berkembang dalam bentuk kantong kertas
dan kardus.Kotak kertas yang dibuat pada sekitar tahun 1840 membutuhkan banyak
lem karena banyak potongan yang perlu direkat. Penggunaannya terbatas untuk
barang-barang mewah (Syarief,1989)
Jenis-jenis kertas
kemudian lebih beragam mulai dari kertas karton, kertas tulis, kraft,kertas
label,kertas tahan minyak (lemak),hingga berbagai jenis karton. Secara
berangsur-angsur sebagai bahan kemas, kemasan kertas mendapat saingan dari
bahan kemas lain terutama plastik.Kertas dan karton dapat dibuat lembaran –
lembaran dan gulungan, karena itu memungkinkan untuk dilakukan proses laminasi
sehingga kertas banyak dikombinasikan dengan bahan lain yang kedap udara dan
tahan air.
Kertas “greaseproof” : dapat digunakan sebagai pengemas utama mentega,
margarin, daging, kopi, dan gula-gula. Mirip kertas karton namun memiliki
kekedapan terhadap perembesan lemak.
Kertas “glassine” : dibuat 80% dari kertas greaseproof namun memiliki
ketahanan terhadap udara dan lemak yang kuat, permukaanya halus, serta
mengkilat. Sering digunakan untuk mengemas roti yang berkadar lemak tinggi.
Kertas “kraft” : kertas yang dibuat dari bubur sulfat dan kayu kraft (yang
berasal dari Swedia dan Jerman). Memiliki sifat yang lebih kuat dari kertas
Glassine, sehingga bahan pangan yang dibungkus dengan kertas ini akan tetap
kering lebih-lebih bila permukaannya dilem dengan resin. Kertas ini biasanya
digunakan untuk mengemas keju di Negara-negara eropah.
Kantung kertas merupakan
salah satu kemasan tertua yang masih tetap popular.Sedangkan amplop adalah
kantung kertas yang mempunyai bentuk khusus,sangat umum digunakan untuk
pembungkus surat. Kedua jenis pembungkus ini dinilai cukup murah, baik harganya
maupun ongkos untuk pengangkutannya. Mempunyai rasio bobot (perbandingan antara
berat kemasan dengan berat produk yang dikemas) yang rendah. Seperti juga
amplop, kantung kertas dapat dibedakan atas beberapa jenis rempah dan berbagai
jenis tepung (Syarief,1989).
Karton lipat merupakan
jenis pengemas yang popular karena mempunyai sifat praktis, murah dan mudah
dilipat sehingga hanya memerlukan sedikit ruang dalam pengangkutan dan
penyimpanan. Demikian pula dalam pencetakan dan penggrafiran dapat dilakukan
untuk meningkatkan penampilan produk.Pemakaian yang luas dari jenis kemasan ini
disebabkan oleh banyaknya variasi dalam hal model, bentuk dan ukuran dengan
karakteristik yang khusus. Dalam perdagangan karton lipat dikenal dengan nama
FC (Folding Carton)
3. Logam
Beberapa keuntungan dari
kemasan logam (kaleng) untuk makanan dan minuman yaitu mempunyai kekuatan
mekanik yang tinggi,mempunyai sifat sebagai barrier yang baik khususnya
terhadap gas,uap air,jasad renik,debu dan kotoran sehingga cocok untuk kemasan
hermitis. Disamping itu walaupun mempunyai resiko adanya pengikisan atau
migrasi unsur-unsur logam,akan tetapi tosisitasnya relatif rendah,tahan
terhadap perubahan atau keadaan suhu yang ekstrim dam mempunyai permukaan yang
ideal untuk pemberian dekorasi dalam labeling.
Bahan yang sering dipakai : Kaleng (tin plate) dan almunium.
Tin plate adalah wadah yang terbuat dari baja yang dilapisi timah putih
yang tipis, bagian dalamnya juga dilapisi dengan lapisan email.
Lapisan email tersusun atas senyawa oleoresin, fenolik, vinil, dan lilin.
Fungsi email adalah untuk mencegah korosi dan mencegah kontak antara metal
dengan bahan pangan. Misal email fenolik digunakan untuk melapisi kaleng
pengemas bahan ikan dan daging.
Kemasan kaleng,umumnya
digunakan untuk berbagai produk yang mengalami proses sterilisasi termal. Pada
mulanya kemasan kaleng dibuat dari plat timah (tin plate) yang terdiri dari
lembaran dasar baja dilapisi timah putih dengan cara encelupan dalam timah cair
panas (hot dipping) atau dengan proses elektrolisa yaitu menggunakan listrik
galvanis sehingga menghasilkan lapisan timah yang lebih tipis standar,seperti
misalnya kaleng baja bebas timah (tin free steel),kaleng tiga lapis (three
piece cans), dan kaleng lapis ganda (two piece cans) (Syarief,1989).
Aluminium adalah logam
yang lebih ringan dari baja, mempunyai daya korosif oleh atmosfir yang
rendah,mudah dilekuk-lekukkan sehingga lebihmudah berubah bentuknya,tidak
berbau,tidak berasa,tidak beracun dan dapat menahan masuknya gas. Aluminium
lebih sukar disolder sehingga sambungan-sambungannya tidak dapat rapat. Kemasan
yang dibuat dari alumiun dapat menyebabkan patahan – patahan jika
terlipat,sehingga dapat menimbulkan lubang-lubang.
Aluminium memiliki keuntungan sebagai bahan pengemas, yaitu memiliki berat
yang lebih ringan dibanding baja.
Aluminium juga mudah dibentuk sesuai keinginan.
Aluminium lebih tahan korosi karena bisa membentuk aluminium oksida.
Kelemahan aluminium adalah mudah berlubang dibanding baja dan lebih sukar
disolder sehingga sambungan kemasan tidak benar-benar rapat.
Pada umumnya penggunaan
alumium secara komersial memerlukan sifat-sifat khusus yang mungkin tidak
menguntungkan bila digunakan aluminium yang murni.Penambahan komponen campuran
dapat memperbaiki sifat-sifatnya dan daya tahan korosi. Bahan –bahan yang umum
digunakan sebagai campuran diantaranya adalah tembaga,magnesium,mangan
khronium,seng,besi dan titanium. Sifat-sifat yang spesifik dari aluminium
memungkinkan penmggunaan logam terbebut sebagai tutup kaleng kemasan berbagai
jenis makanan dan minuman atau untuk tube logam lunak / collapsible tube (
Iskandar ,1987).
Foil adalah bahan kemasan
dari logam , berupa lembaran aluminium ayng padat dan tipis dengan ketebalan
kurang dari 0,15 mm. Mempunyai kekerasan yang berbeda-beda,yaitu dari mulai
yang sangat lunak sampai yang keras. Foil mempunyai sifat yang
hermetis,fleksibel,tidak tembus cahaya (cocok untuk kemasan margarin dan
yoghurt).Pada umumnya digunakan sebagai bahan pelapis (laminan) yang dapat
ditepatkan pada bagian dalam (lapisan dalam) atau lapisan tengah sebagai
penguat yang dapat melindungi kemasan (Syarief,1989)
4.Plastik
Penggunaan plastik dalam
pengemasan sebenarnya sangat terbatas tergantung dari jenis makanannya.
elemahan plastik adalah tidak tahan panas, tidak hermetis (plastik masih bisa
ditembus udara melalui pori-pori plastik), dan mudah terjadi pengembunan uap
air didalam kemasan ketika suhu turun. Penggunaan plastik sebagai kemasan dapat
berupa kemas bentuk (flexible) atau sebagai kemas kaku. Makanan padat yang
umumnya memiliki umur simpan pendek atau makanan yang tidak memerlukan
perlindungan yang hebat dikemas dengan kemasan bentuk. Akan tetapi makan cair
dan maka padat yang memerlukan perlindungan yang kuat perlu dikemas dengan
kemasan kaku dalam bentuk botol,jerigen,kotak atau bentuk lainnya (Suryati dan
Setiawan ,1987)
Berbagai jenis kemasan
bentuk muncul dengan pesat seperti polietilen,polipropilen,polyester nilon dan
film vinil. Sebagai bahan pengemas ,plastik dapat digunakan dalam bentuk
tunggal,komposit atau berupa lapisan – lapisan (multi lapis)dengan bahan lain
(kertas,aluminium foil ). Kombinasi tersebut dinamakan laminasi yang diproses
baik dengan cara laminasi akstrusi maupun laminasi adhesif. Dengan demikian
kombinasi dari berbagai ragam plastik dapat menghasilkan ratusan jenis kemasan.
Berdasarkan sifat-sifatnya
terhadap perubahan suhu maka plastik dapat dibagi dua,yaitu :
1. Termoplastik: meleleh pada suhu tertentu,
melekat mengikuti perubahan suhu,dan mempunyai sifat dapat balik (reversible)
kepada sifat aslinya,yaitu kembali mengeras bila didinginkan.
2. Termoset atau Termodursinable : tidak
dapat mengikuti perubahan suhu, bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan
tidak dapat dilunakkan kembali (non reversible).Pemanasan yang tinggi tidak
akan melunakkan termoset melainkan akan membentuk arang dan terurai,karena
sifatnya yang demikian sering digunakan sebagai tutup ketel,eperti jenis-jenis
melamin.
Penggunaan plastik untuk kemasan makanan cukup menarik karena
sifat-sifatnya yang menguntungkan,seperti luwes (mudah dibentuk),mempunyai
adaptasi yang tinggi terhadap produk,tidak korosif seperti kemasan logam ,
serta mudah dalam penanganannya. Di dalam perdagangan dikenal plastik untuk
kemasan pangan (food grade) dankemasan untuk bukan pangan (non food grade).
Kemasan kaku yang terbuat dari plastik paling banyak digunakan untuk
mengemas produk susu. Dua jenis bahan dari plastik yang terbaik yaitu LDPE (Low
Density Polyethylene ) dan HDPE (High Density Polyethylene). Bentuk-bentuk kemasan
plastik kaku dapat dijumpai dengan mudah di pasaran dalam bentuk yang siap
pakai seperti botol.jerigen,drum ,gelas ,mangkuk, ember, dan lain-lain
(Syarief,1989)
Penggunaan plastik dalam pengemasan sebenarnya sangat terbatas tergantung
dari jenis makanannya. elemahan plastik adalah tidak tahan panas, tidak
hermetis (plastik masih bisa ditembus udara melalui pori-pori plastik), dan
mudah terjadi pengembunan uap air didalam kemasan ketika suhu turun.
Jenis plastik yang digunakan dalam pengemasan antara lain : polietilen,
cellophan, polivinilklorida (PVC), polivinil dienaklorida (PVDC), polipropilen,
poliester, poliamida, dan polietilentereptalat (PET).
Polietilen : adalah jenis plastik yang harganya paling murah dan memiliki
beberapa varian antara lain : Low Density Polyetilene (LDPE), High Density
Polyetilene (HDPE), dan Polietelentereptalat (PET). Polietilen memiliki sifat
kuat bergantung variannya, transparan, dan dapat direkatkan dengan panas
sehingga mudah dibuat kantong plastik.
Cellophan : sebenarnya terbuat dari serat selulosa yang disulfatasi.
Cellophan dapat dipergunakan untuk membungkus sayuran, daging, dan beberapa
jenis roti. Cellophan yang dilapisi nitroselulosa mempunyai sifat yang tahan
terhadap uap air, fleksibel, dan mudah direkatkan dengan pemanasan. Cellophan
yang dilapisi PVDC tahan terhadap uap air dan kedap oksigen sehingga baik untuk
mengemas makanan yang mengandung minyak atau lemak.
Polivinilklorida (PVC) : jenis plastik yang kuat, namun memiliki kelemahan
yaitu dapat berkerut (Shrinkable) dan sering digunakan untuk mengemas daging
atau keju.
Polivinildienaklorida (PVDC) : jenis plastik yang kuat, tahan terhadap uap
air dan transmisi udara. Sering dugunakan dalam pengemasan keju dan buah-buahan
yang dikeringkan.
5.Kain Blacu
Digunakan untuk mengemas bahan pangan tepung, seperti tepung terigu atau
tepung tapioka. Dibuat dalam bentuk kantung-kantung yang berkapasitas 10 – 50
kg.
Kelebihannya adalah tidak mudah sobek/ kuat kainnya, flesibel, mudah
dicetak dan murah harganya.
Kelemahannya : memiliki permiabilitas udara yang jelek dan tidak kedap air.
6.Edible film
Edible film adalah bahan pengemas organik yang dapat dimakan sekaligus
dengan bahan pangan yang dikemasnya, biasa terbuat dari senyawa polisakarida
dan turunan lemak. akan yang digunakan antara lain polisakarida yang berasal
dari rumput laut (agarose, karaginan, dan alginat), polisakarida pati, amilosa
film, gelatin, gum arabik, dan turunan monogliserida. Contoh pengemasan edible
film adalah pada sosis, permen, kapsul minyak ikan, sari buah dan lain-lain.
7.Karton




Tidak ada komentar:
Posting Komentar